George Habash: Tokoh Palestina, Kristen, dan Revolusioner Arab

George Habash (1926–2008) adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah perjuangan Palestina pada abad ke-20. Ia lahir di Lydda (Lod), Palestina, dari keluarga Kristen Ortodoks Palestina. Jadi, Habash bukan seorang Muslim dan bukan tokoh yang membangun perjuangannya berdasarkan ideologi Islam.

Pada 1948, ketika perang Arab–Israel terjadi dan masyarakat Palestina mengalami pengungsian besar-besaran, pengalaman tersebut sangat memengaruhi kehidupan dan pemikiran Habash. Ia kemudian meninggalkan karier kedokterannya dan semakin aktif dalam gerakan politik Palestina.

Habash pada awalnya dipengaruhi oleh nasionalisme Arab, kemudian pemikirannya berkembang ke arah sosialisme dan Marxisme. Ia melihat persoalan Palestina bukan hanya sebagai persoalan agama, tetapi sebagai persoalan penjajahan, nasionalisme, ketimpangan sosial, dan imperialisme.

Pada 1967 ia menjadi salah satu pendiri Popular Front for the Liberation of Palestine (PFLP). Organisasi tersebut menjadi salah satu faksi dalam gerakan nasional Palestina dan kemudian menjadi bagian dari lingkungan politik PLO.

Habash mempunyai pandangan bahwa perjuangan Palestina harus melibatkan masyarakat Palestina secara luas, bukan hanya satu kelompok agama. Karena itu, identitas Kristen Palestina tidak membuatnya merasa berada di luar perjuangan Palestina yang mayoritas penduduknya Muslim.

Lalu apa gagasannya?

Secara sederhana, gagasan Habash dapat diringkas menjadi:

Pembebasan Palestina → persatuan Arab → anti-imperialisme → sosialisme.

Ia percaya bahwa kemerdekaan Palestina berkaitan dengan perjuangan melawan struktur politik dan ekonomi yang menurutnya mempertahankan dominasi asing. Karena itulah pemikirannya lebih dekat dengan revolusi nasional dan sosial daripada gerakan Islam politik.

George Habash adalah seorang Kristen Palestina yang menjadi tokoh perjuangan pembebasan Palestina dan revolusioner Arab berhaluan Marxis.

Namun, ada satu hal yang menarik secara historis: agama berbeda tidak selalu berarti tujuan politik berbeda. Habash seorang Kristen, tetapi ia memperjuangkan hak rakyat Palestina yang mayoritas Muslim. Ia melihat Palestina sebagai tanah dan bangsa yang harus diperjuangkan bersama oleh masyarakat Palestina, terlepas dari agama.

READ  13 Juli 1911: Lahirnya União dos Trabalhadores Africanos, Perlawanan Buruh Afrika di Mozambik

Karena itu, sejarah Habash juga menunjukkan bahwa perjuangan Palestina pernah memiliki spektrum yang sangat luas: nasionalis, sekuler, sosialis, Kristen, Muslim, hingga kelompok Islam politik. PFLP sendiri merupakan salah satu faksi dalam spektrum tersebut, berbeda ideologinya dengan Hamas dan kelompok Islamis lainnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *