14 September 1960. Republik Kongo yang baru merdeka kembali terguncang. Kepala Staf Angkatan Darat Kongo, Joseph-Désiré Mobutu, mengambil alih kekuasaan dan menyingkirkan sementara pemerintahan politik yang sedang berseteru, termasuk Perdana Menteri Patrice Lumumba. Dokumen pemerintah Amerika Serikat menunjukkan bahwa Washington memang memberikan dukungan rahasia kepada pemerintahan baru Mobutu.
Lumumba telah menjadi tokoh yang sangat mengkhawatirkan Washington. Dalam pembahasan Dewan Keamanan Nasional Amerika Serikat pada Juli 1960, Direktur CIA Allen Dulles menggambarkan Lumumba sebagai seseorang yang “seperti Castro atau lebih buruk”. Beberapa minggu kemudian, Dulles mengirim telegram yang menyatakan bahwa penyingkiran Lumumba harus menjadi “urgent and prime objective” dan mendapat prioritas tinggi dalam operasi rahasia CIA.
Bagi Amerika Serikat, persoalannya bukan hanya politik domestik Kongo. Krisis tersebut berlangsung pada puncak Perang Dingin, ketika Washington khawatir hubungan Lumumba dengan Uni Soviet akan membawa Kongo ke dalam orbit komunisme.
Namun Kongo juga memiliki sesuatu yang jauh lebih konkret: kekayaan alamnya.
Di wilayah Katanga, pusat pertambangan yang sangat penting, Moïse Tshombe memproklamasikan pemisahan diri dari Kongo pada Juli 1960. Katanga kemudian menjadi salah satu pusat utama konflik politik dan ekonomi dalam krisis Kongo.
Lumumba berusaha mempertahankan keutuhan negara yang baru saja memperoleh kemerdekaan. Tetapi kekuatan politik di dalam negeri bertabrakan dengan kepentingan asing, konflik Katanga, dan persaingan Amerika Serikat–Uni Soviet.
Pada akhir 1960, Lumumba ditangkap setelah berusaha mencapai wilayah yang masih menjadi basis pendukungnya. 17 Januari 1961, ia bersama dua rekannya, Maurice Mpolo dan Joseph Okito, dieksekusi di Katanga oleh pasukan Katanga dengan keterlibatan seorang perwira Belgia. Dokumen sejarah pemerintah AS mencatat bahwa Washington kemudian menerima laporan mengenai eksekusi tersebut.
Kematian Lumumba kemudian diikuti upaya menghilangkan jejak jasadnya.
Bertahun-tahun kemudian, terungkap bahwa jenazahnya dihancurkan dan dilarutkan menggunakan bahan kimia. Salah satu orang yang mengaku terlibat adalah mantan polisi Belgia Gérard Soete. Belgia akhirnya menyerahkan sebuah gigi yang dikaitkan dengan Lumumba kepada keluarganya pada 2022. Perdana Menteri Belgia Alexander De Croo secara terbuka mengakui tanggung jawab moral pemerintah Belgia atas keadaan yang membawa Lumumba menuju kematiannya dan menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga serta rakyat Kongo.
Itulah yang membuat tragedi Lumumba begitu penting dalam sejarah Afrika.
Ia tidak sekadar menjadi korban perebutan kekuasaan. Ia menjadi simbol dari pertanyaan yang jauh lebih besar:
Apakah sebuah negara benar-benar merdeka ketika rakyatnya telah memperoleh bendera sendiri, tetapi kekayaan dan arah politiknya masih diperebutkan oleh kekuatan asing?
Patrice Lumumba akhirnya dibunuh.
Namun gagasan tentang Kongo yang berdaulat, bersatu, dan menentukan nasibnya sendiri justru membuat namanya bertahan jauh lebih lama daripada orang-orang yang menjatuhkannya dan ada sesuatu yang tidak dapat mereka larutkan dengan asam:
gagasannya.
Dalam suratnya kepada istrinya, Lumumba menulis:
“I have never doubted for a moment the triumph of our sacred cause.”
“Saya tidak pernah sedikit pun meragukan kemenangan perjuangan suci kita.
Kalimat itu ditulis ketika hidupnya berada dalam bahaya. Lumumba mengetahui bahwa kekuasaan sedang menghancurkannya, tetapi ia tetap percaya bahwa perjuangan untuk kemerdekaan Kongo jauh lebih besar daripada dirinya sendiri.
Dan sejarah kemudian menunjukkan paradoks itu.
Mereka berhasil membunuh Lumumba.
Mereka berhasil menghancurkan tubuhnya.
Mereka bahkan berusaha menghilangkan makamnya.
Tetapi mereka tidak berhasil menghapus namanya dari sejarah
Patrice Lumumba akhirnya menjadi salah satu simbol paling kuat dari perjuangan antikolonial Afrika seorang pemimpin yang hidupnya berakhir di tengah perebutan kekuasaan, tetapi gagasannya terus hidup jauh setelah tubuhnya dihancurkan.
Tubuh bisa dilarutkan dengan asam.
Tetapi sebuah gagasan tidak semudah itu dihancurkan.












