Ada sesuatu yang mengganggu para penguasa ketika orang-orang berkumpul untuk mengingat. Bukan karena nostalgia berbahaya, melainkan karena ingatan adalah musuh alami kekuasaan yang ingin sejarah hanya ditulis oleh para pemenang.
Sembilan puluh tahun setelah Revolusi Sosial 1936, di sebuah ruang bernama Cambalache, Uviéu, sejarah dipanggil kembali. Bukan sebagai barang antik di balik kaca museum, melainkan sebagai bahan bakar diskusi. Tema yang mereka pilih sederhana namun menghantam: “Memoria, Lucha y Futuro” Ingatan, Perjuangan, dan Masa Depan.
Jesús Aller dijadwalkan mengupas bagaimana kesadaran revolusioner terbentuk, membedakan revolusi sosial dari revolusi politik, lalu menelusuri pengalaman Catalunya, Aragón, dan Xixón pada 1936. Dalam sudut pandang yang dipromosikan penyelenggara, rakyat bukan sekadar penonton sejarah. Mereka adalah pekerja yang mengambil alih pabrik, membentuk kolektif, mengangkat senjata tanpa latihan militer, dan berusaha melawan Franco, fasisme, serta berbagai bentuk otoritarianisme. Penyelenggara juga menyampaikan pandangan bahwa gerakan tersebut kemudian mendapat tekanan dari kekuatan politik yang berafiliasi dengan Stalin.
Namun acara ini bukan hanya tentang masa lalu. Rangkaian kegiatan berikutnya pemutaran film dokumenter, diskusi, penghormatan kepada seniman “El Cabrero”, hingga meja literatur anarkis di pasar Grao menunjukkan bahwa bagi para penyelenggara, revolusi bukan sekadar peristiwa yang selesai pada 1939. Ia dipandang sebagai percakapan yang terus berlangsung.
Di ujung seruan mereka, tak ada ajakan untuk diam. Yang terdengar justru sebuah slogan yang telah hidup lebih dari satu abad: “Berorganisasi dan berjuang di antara sesama.” Sebuah kalimat yang, entah disetujui atau ditolak, mengingatkan bahwa sejarah selalu menjadi arena perebutan makna, dan setiap generasi akan memutuskan sendiri di pihak mana ia berdiri.












