Aku Dilahirkan dari Trotoar yang Digusur

Namaku Jihad Abd Mujahid. Lahir Garut 06 Januari 1992. Seorang jurnalis. Penulis buku The War of Journalists. Tapi sebelum semua gelar itu terdengar keren di telinga orang-orang, aku lebih dulu mengenal bau trotoar, lapar, penggusuran, dan rasa kehilangan yang tidak pernah diajarkan kampus mana pun.

Negara pertama kali terasa asing bagiku saat kedua orang tuaku meninggal dan tidak meninggalkan apa-apa selain kenyataan pahit. Tidak ada warisan tanah. Tidak ada rumah. Tidak ada tabungan. Bahkan mungkin negara pun tidak tahu kami pernah hidup.

Aku datang ke Bandung membawa mimpi yang terlalu besar untuk ukuran kantongku sendiri. Tahun 2013–2014, saat kota sibuk dipoles menjadi kota kreatif di bawah Ridwan Kamil, aku mencoba bertahan sebagai pedagang kaki lima sambil kuliah di Fiksi Ganesha Bandung. Aku menjual barang di jalanan sambil memeluk cita-cita seperti orang miskin memeluk sisa harapan terakhirnya.

Bandung terlihat indah di Instagram. Tapi di bawah lampu kota dan slogan-slogan pembangunan itu, ada orang-orang kecil yang berlari menyelamatkan dagangannya dari Satpol PP.

Aku salah satunya.

Aku masih ingat bagaimana daganganku diambil. Bukan cuma barang yang dirampas, tapi juga mimpi. Ada sesuatu yang pecah di kepalaku hari itu. Aku mulai sadar bahwa penataan kota kadang hanya nama halus dari penghilangan orang miskin agar kota terlihat cantik di kamera media.

Dan media? Ah, media sering terlalu sibuk membuat pejabat terlihat seperti pahlawan. Kamera lebih suka merekam senyum pemimpin daripada wajah pedagang kecil yang pulang dengan mata kosong.

Di situlah pikiranku berubah tentang negara.

Aku mulai melihat bahwa banyak pembangunan berdiri di atas kegelisahan orang-orang kecil yang disapu diam-diam dari trotoar sejarah.

READ  Antonia Fontanillas: Pejuang Revolusi Spanyol 1936 dan Aktivis Perlawanan Bawah Tanah

Kuliahku hancur karena ekonomi. Mimpiku tamat sebelum wisuda. Tapi ada satu hal yang tidak bisa dibunuh oleh kemiskinan: rasa lapar untuk belajar.

Saat hidup mulai terasa seperti reruntuhan, aku justru menemukan diriku sendiri di antara buku-buku bekas dan jalanan. Pada 22 Mei 2016, aku mendirikan Komunitas Perpustakaan Jalanan Sakabaca. Mungkin terdengar kecil. Tapi bagiku itu lebih jujur daripada banyak pidato pejabat tentang pendidikan.

Aku membeli buku ketika orang lain membeli gengsi.

Aku membaca ketika hidup sedang memukulku tanpa belas kasihan.

Aku belajar menulis dari blog gratisan, dari warnet murah, dari malam panjang yang dipenuhi rokok, kopi, dan kemarahan pada keadaan. Aku menulis bukan karena ingin terkenal. Aku menulis karena aku takut suara orang kecil benar-benar hilang dari dunia ini.

Aku percaya banyak orang besar sebenarnya kosong. Mereka punya jabatan tapi tidak punya jejak. Punya kekuasaan tapi tidak punya keberanian berpikir. Mereka berdiri gagah di televisi, tapi sejarah suatu hari akan melupakan mereka seperti kota melupakan pedagang kaki lima yang pernah diusir dari trotoarnya sendiri.

Aku tidak lahir dari keluarga elite. Aku tidak dibesarkan oleh uang. Aku dibentuk oleh kehilangan, jalanan, buku-buku murah, dan kemarahan yang terlalu keras untuk disimpan sendiri.

Dan mungkin itu sebabnya tulisanku terdengar liar.

Karena aku tidak menulis dari ruang ber-AC.

Aku menulis dari hidup yang benar-benar terbakar. Dan hari ini aku tidak memiliki ijasah karna hilang dan tidak membutuhkan apa apa selain meninggalkan jejak ,orang kecil mampu menulis lebih keras dan membuktikan bahwa kebijakan tanpa melihat penderitaan  mampu menghilangkan mimpi anak anak yang kehilangan orang tuanya . Dan semoga itu tidak terjadi untuk semua orang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *