Rosa dan Carmelo (1936–1939): Cinta, Fasisme, dan Kesaksian dari Gran Canaria

 

“Ya, Nak… malam itu mereka datang dalam keadaan mabuk.”

Kalimat itu keluar perlahan dari mulut Susanita Curbelo Afonso saat diwawancarai pada 29 Juli 1987 di rumahnya di San José del Álamo, Gran Canaria. Wawancara itu dilakukan dalam upaya mendokumentasikan kesaksian korban dan saksi kekejaman rezim Franco di Kepulauan Canary. Kesaksian tersebut kemudian dipublikasikan oleh Francisco González Tejera, seorang penulis dan peneliti yang selama bertahun-tahun mengumpulkan cerita tentang korban yang dilupakan sejarah resmi Spanyol.

 

Francisco González Tejera dikenal sebagai salah satu tokoh yang aktif menggali kembali memori kelam Perang Saudara Spanyol dan kediktatoran Franco, terutama di wilayah Gran Canaria. Melalui wawancara-wawancara seperti ini, ia mencoba menghidupkan kembali suara orang-orang kecil yang selama puluhan tahun dipaksa diam oleh ketakutan.

Susanita sendiri sudah tua ketika wawancara itu dilakukan, tetapi ingatan tentang malam berdarah tersebut masih tajam di kepalanya.

“Malam itu saya sedang tidur bersama suami saya, Juan,” katanya. “Lalu saya mendengar suara ribut dari arah jalan Teror.”

Ketika membuka sedikit pintu rumahnya, ia melihat puluhan pria bersenjata datang sambil berteriak dan menembakkan senjata ke udara. Mereka adalah anggota Falange, kelompok fasis pendukung kudeta militer Jenderal Francisco Franco. Di depan rombongan berjalan seorang anak kecil membawa bendera yugo y flechas, simbol Falangis.

Saat itu tahun 1936. Spanyol sedang jatuh ke dalam perang saudara setelah Franco dan kelompok nasionalis melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Republik Spanyol. Konflik tersebut berubah menjadi perang ideologi antara fasisme melawan kelompok republikan, sosialis, komunis, dan anarkis.

Di wilayah yang dikuasai Franco, ribuan orang diburu hanya karena gagasan politik mereka. Guru, seniman, buruh, penyair, bahkan petani biasa ditangkap, disiksa, dan dibunuh tanpa pengadilan. Kepulauan Canary menjadi salah satu daerah pertama yang jatuh ke tangan kaum nasionalis.

Dan malam itu, target mereka adalah Rosa dan Carmelo.

“Mereka tinggal di rumah kecil di lereng bukit,” kenang Susanita dalam wawancara tersebut. “Rosa seorang guru, Carmelo tukang bangunan.”

READ  Surat Kabar Pravda: Dari Suara Revolusi hingga Corong Kekuasaan Rusia

Pasangan muda itu dikenal aktif di Ateneo Las Palmas, ruang diskusi kaum progresif di Gran Canaria. Rosa menulis puisi tentang kebebasan. Carmelo melukis kehidupan rakyat biasa dengan warna-warna cerah. Bagi rezim fasis, pemikiran seperti itu dianggap ancaman.

Susanita melihat sendiri bagaimana pintu rumah mereka dihancurkan.

“Mereka menendang pintunya sampai pecah,” katanya. “Carmelo dipukul dan diseret keluar. Rosa dibawa setengah telanjang.”

Pasangan itu kemudian dibawa ke hutan pinus dekat Riscos de Jiménez.

“Saya mendengar Rosa menjerit ketika mereka memperkosanya bergiliran,” ucap Susanita lirih. “Dan Carmelo dipaksa melihat semuanya.”

Kesaksian itu berhenti beberapa saat. Dalam wawancara tersebut, Susanita mengaku ada bagian-bagian yang terlalu menyakitkan untuk diingat kembali.

Keesokan harinya ia dan suaminya pergi ke hutan kecil tempat pasangan itu dibawa.

“Kami menemukan Carmelo terikat di pohon acebuche,” katanya. “Dan Rosa terbaring di tanah dengan pendarahan hebat.”

Yang membuatnya paling hancur adalah kenyataan bahwa para pelaku bukan orang asing.

“Ada pastor gereja, pejabat Guardia Civil, anak-anak keluarga kaya… orang-orang yang saya kenal sejak lama,” katanya.

Setelah Franco menang dalam perang tahun 1939, Spanyol hidup di bawah kediktatoran selama hampir empat puluh tahun. Cerita tentang pembantaian dan kuburan massal ditutupi. Banyak keluarga korban dipaksa bungkam karena takut.

Melalui wawancara yang dikumpulkan Francisco González Tejera, kisah seperti Rosa dan Carmelo akhirnya kembali muncul ke permukaan sejarah. Kesaksian Susanita menjadi pengingat bahwa di balik angka korban perang, ada manusia-manusia biasa yang kehilangan cinta, mimpi, dan hidup mereka.

“Karena itu,” kata Susanita di akhir wawancara, “setiap kali kami melewati tempat itu, kami selalu membawa bunga dan meletakkannya di dekat pohon zaitun.”

Dan bunga-bunga itu menjadi simbol bahwa sejarah mungkin bisa disembunyikan, tetapi luka manusia tidak pernah benar-benar hilang.

“Ya, Nak… malam itu mereka datang dalam keadaan mabuk.”

Kalimat itu keluar perlahan dari mulut Susanita Curbelo Afonso saat diwawancarai pada 29 Juli 1987 di rumahnya di San José del Álamo, Gran Canaria. Wawancara itu dilakukan dalam upaya mendokumentasikan kesaksian korban dan saksi kekejaman rezim Franco di Kepulauan Canary. Kesaksian tersebut kemudian dipublikasikan oleh Francisco González Tejera, seorang penulis dan peneliti yang selama bertahun-tahun mengumpulkan cerita tentang korban yang dilupakan sejarah resmi Spanyol.

READ  Mauthausen 1945: Dua Hari Sebelum Merdeka Perlawanan Tahanan Spanyol di Mauthausen

Francisco González Tejera dikenal sebagai salah satu tokoh yang aktif menggali kembali memori kelam Perang Saudara Spanyol dan kediktatoran Franco, terutama di wilayah Gran Canaria. Melalui wawancara-wawancara seperti ini, ia mencoba menghidupkan kembali suara orang-orang kecil yang selama puluhan tahun dipaksa diam oleh ketakutan.

Susanita sendiri sudah tua ketika wawancara itu dilakukan, tetapi ingatan tentang malam berdarah tersebut masih tajam di kepalanya.

“Malam itu saya sedang tidur bersama suami saya, Juan,” katanya. “Lalu saya mendengar suara ribut dari arah jalan Teror.”

Ketika membuka sedikit pintu rumahnya, ia melihat puluhan pria bersenjata datang sambil berteriak dan menembakkan senjata ke udara. Mereka adalah anggota Falange, kelompok fasis pendukung kudeta militer Jenderal Francisco Franco. Di depan rombongan berjalan seorang anak kecil membawa bendera yugo y flechas, simbol Falangis.

Saat itu tahun 1936. Spanyol sedang jatuh ke dalam perang saudara setelah Franco dan kelompok nasionalis melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Republik Spanyol. Konflik tersebut berubah menjadi perang ideologi antara fasisme melawan kelompok republikan, sosialis, komunis, dan anarkis.

Di wilayah yang dikuasai Franco, ribuan orang diburu hanya karena gagasan politik mereka. Guru, seniman, buruh, penyair, bahkan petani biasa ditangkap, disiksa, dan dibunuh tanpa pengadilan. Kepulauan Canary menjadi salah satu daerah pertama yang jatuh ke tangan kaum nasionalis.

Dan malam itu, target mereka adalah Rosa dan Carmelo.

“Mereka tinggal di rumah kecil di lereng bukit,” kenang Susanita dalam wawancara tersebut. “Rosa seorang guru, Carmelo tukang bangunan.”

Pasangan muda itu dikenal aktif di Ateneo Las Palmas, ruang diskusi kaum progresif di Gran Canaria. Rosa menulis puisi tentang kebebasan. Carmelo melukis kehidupan rakyat biasa dengan warna-warna cerah. Bagi rezim fasis, pemikiran seperti itu dianggap ancaman.

READ  Semangat Raden Ajeng Kartini: Dari Gelap Menuju Terang untuk Generasi Masa Kini

Susanita melihat sendiri bagaimana pintu rumah mereka dihancurkan.

“Mereka menendang pintunya sampai pecah,” katanya. “Carmelo dipukul dan diseret keluar. Rosa dibawa setengah telanjang.”

Pasangan itu kemudian dibawa ke hutan pinus dekat Riscos de Jiménez.

“Saya mendengar Rosa menjerit ketika mereka memperkosanya bergiliran,” ucap Susanita lirih. “Dan Carmelo dipaksa melihat semuanya.”

Kesaksian itu berhenti beberapa saat. Dalam wawancara tersebut, Susanita mengaku ada bagian-bagian yang terlalu menyakitkan untuk diingat kembali.

Keesokan harinya ia dan suaminya pergi ke hutan kecil tempat pasangan itu dibawa.

“Kami menemukan Carmelo terikat di pohon acebuche,” katanya. “Dan Rosa terbaring di tanah dengan pendarahan hebat.”

Yang membuatnya paling hancur adalah kenyataan bahwa para pelaku bukan orang asing.

“Ada pastor gereja, pejabat Guardia Civil, anak-anak keluarga kaya… orang-orang yang saya kenal sejak lama,” katanya.

Setelah Franco menang dalam perang tahun 1939, Spanyol hidup di bawah kediktatoran selama hampir empat puluh tahun. Cerita tentang pembantaian dan kuburan massal ditutupi. Banyak keluarga korban dipaksa bungkam karena takut.

Melalui wawancara yang dikumpulkan Francisco González Tejera, kisah seperti Rosa dan Carmelo akhirnya kembali muncul ke permukaan sejarah. Kesaksian Susanita menjadi pengingat bahwa di balik angka korban perang, ada manusia-manusia biasa yang kehilangan cinta, mimpi, dan hidup mereka.

“Karena itu,” kata Susanita di akhir wawancara, “setiap kali kami melewati tempat itu, kami selalu membawa bunga dan meletakkannya di dekat pohon zaitun.”

Dan bunga-bunga itu menjadi simbol bahwa sejarah mungkin bisa disembunyikan, tetapi luka manusia tidak pernah benar-benar hilang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *