Ruang kelas perlahan berubah menjadi pasar sunyi, tempat masa depan anak-anak ditimbang lewat amplop, tanda tangan, dan stempel birokrasi. Bantuan untuk siswa turun atas nama pendidikan, tetapi sebelum menyentuh tangan mereka yang membutuhkan, dana itu lebih dulu singgah di meja-meja orang yang mengatasnamakan pengabdian. Di sana, angka dipotong diam-diam, hak siswa diperkecil perlahan, lalu dibungkus pidato tentang moral, pembangunan, dan kemajuan sekolah.
Pendidikan tidak lagi berdiri sebagai jalan pembebasan, melainkan berubah menjadi ladang transaksi. Anak-anak dari keluarga miskin dipaksa memahami kenyataan pahit sejak dini: bahwa bahkan hak belajar pun dapat dicuri oleh mereka yang seharusnya menjaga amanah. Yang lebih mengerikan, praktik itu sering hadir dengan wajah santun, memakai bahasa agama, berbicara tentang pahala, adab, dan akhlak, tetapi diam-diam menjadikan sekolah sebagai mesin keuntungan. Wajah pendidikan kapitalisme berkedok agama tumbuh perlahan: gedung dipoles ayat-ayat suci, seragam dibungkus simbol kesalehan, tetapi hak murid tetap dipotong dan kemiskinan tetap dijadikan alat bisnis.
Agama dijadikan dekorasi moral untuk menutupi kerakusan sistem. Mimbar-mimbar berbicara tentang kejujuran, sementara ruang administrasi sibuk menghitung bagian yang bisa dipotong dari bantuan siswa. Anak-anak diajarkan doa sebelum belajar, tetapi dipaksa menerima kenyataan bahwa dunia pendidikan pun dapat berubah menjadi pasar yang menjual kesucian.
Kemarahan Mikhail Bakunin seolah hidup kembali di tengah sistem yang terlalu nyaman dengan kekuasaan. Pendidikan yang seharusnya membebaskan manusia justru dipakai untuk mempertahankan struktur yang busuk. Bayangan Pierre-Joseph Proudhon terasa relevan ketika bantuan siswa dipotong dan masa depan diperjualbelikan. “Kepemilikan adalah pencurian,” katanya dahulu. Kini pencurian itu hadir dalam bentuk yang lebih rapi: proposal, kuitansi, laporan administrasi, dan rapat penuh kata-kata suci.

Sementara gagasan Emma Goldman terasa seperti tamparan keras bagi dunia pendidikan hari ini:
“The most violent element in society is ignorance.”
“Unsur paling berbahaya dalam masyarakat adalah kebodohan.”
Kebodohan itu bukan hanya lahir dari murid yang tidak belajar, tetapi juga dari sistem yang sengaja membiarkan generasi muda kehilangan kesadaran kritis. Sekolah yang korup tidak melahirkan keberanian berpikir, melainkan mencetak manusia yang takut mempertanyakan kekuasaan dan terbiasa tunduk pada kemunafikan.
Dari Amerika Latin, pemikiran Paulo Freire kembali mengingatkan bahwa pendidikan seharusnya membangunkan kesadaran kaum tertindas. Namun ketika institusi pendidikan berubah menjadi mesin bisnis, panggung pencitraan moral, dan industri kesalehan, ruang kelas kehilangan makna sucinya.
Yang dirampas bukan hanya uang bantuan. Yang hilang adalah kepercayaan anak-anak bahwa pendidikan mampu menjadi jalan keluar dari kemiskinan. Dan ketika sekolah berubah menjadi tempat bancakan, generasi muda tumbuh dengan satu pelajaran paling berbahaya: kejujuran hanya slogan yang tergantung di dinding kelas yang catnya mulai mengelupas.












