Pemikiran Revolusi dan Rakyat: Dari Rosa Luxemburg hingga Paulo Freire

“Gerakan revolusi hari ini mungkin terkonfirmasi menjadi gerakan kecil. Ia tidak lagi sebesar dahulu, tidak memenuhi jalanan dengan jutaan manusia, dan sering kalah oleh pasar, media, maupun kekuasaan. Namun revolusi tidak benar-benar mati; ia hanya berpindah menjadi kesadaran-kesadaran kecil yang tetap hidup di tengah masyarakat.

Banyak pemikir dunia percaya bahwa revolusi tidak bisa sepenuhnya lahir dari partai atau sistem kekuasaan. Revolusi sejati harus tumbuh dari masyarakat itu sendiri  dari penderitaan, pengalaman hidup, dan kesadaran rakyat.

Rosa Luxemburg misalnya, percaya bahwa revolusi tidak akan hidup jika hanya digerakkan oleh elit partai. Ia melihat kekuatan utama perubahan justru lahir dari spontanitas massa rakyat: buruh, masyarakat miskin, dan orang-orang biasa yang sadar akan ketidakadilan hidup mereka. Baginya, ketika partai terlalu mengontrol revolusi, gerakan bisa kehilangan ruh kebebasan dan berubah menjadi birokrasi baru yang jauh dari rakyat.

Sementara Antonio Gramsci berbicara bahwa kekuasaan tidak hanya berdiri melalui senjata atau negara, tetapi juga lewat budaya, media, pendidikan, dan cara manusia berpikir sehari-hari. Karena itu ia percaya perubahan besar harus dimulai dari kesadaran masyarakat sipil. Revolusi bukan hanya merebut pemerintahan, melainkan membangun cara berpikir baru di tengah rakyat agar mereka mampu melawan dominasi yang dianggap normal.

Mikhail Bakunin bahkan lebih keras lagi dalam kritiknya terhadap negara dan partai politik. Ia takut setiap revolusi yang terlalu terpusat pada kekuasaan akhirnya hanya mengganti penguasa lama dengan penguasa baru. Menurutnya kebebasan sejati hanya bisa lahir ketika rakyat mengorganisir dirinya sendiri tanpa dominasi elit maupun negara yang terlalu kuat.

Sedangkan Paulo Freire melihat pembebasan melalui pendidikan dan kesadaran. Dalam pemikirannya, rakyat kecil sering dijadikan objek yang hanya disuruh mengikuti sistem. Padahal masyarakat harus menjadi subjek perubahan: mampu berpikir kritis, mempertanyakan ketidakadilan, dan menyadari bahwa mereka memiliki hak untuk menentukan masa depannya sendiri.

READ  Antonia Fontanillas: Pejuang Revolusi Spanyol 1936 dan Aktivis Perlawanan Bawah Tanah

Hari ini kata ‘revolusi’ sering dipersempit seolah hanya berarti gerakan radikal atau kekacauan. Padahal banyak negara besar justru lahir dari revolusi. Indonesia lahir dari revolusi kemerdekaan melawan kolonialisme. Amerika Serikat berdiri melalui American Revolution. Prancis berubah lewat French Revolution yang mengguncang feodalisme Eropa. Banyak bangsa besar terbentuk karena masyarakatnya pernah menolak ketidakadilan dan ingin menciptakan dunia baru.

Mungkin karena itu revolusi tidak selalu tentang senjata atau perebutan kekuasaan. Kadang revolusi lahir dari tulisan, pendidikan, kesadaran, dan keberanian rakyat kecil untuk berpikir berbeda. Dan meski hari ini ia tampak kecil, setiap perubahan besar dalam sejarah selalu berawal dari kelompok kecil yang percaya bahwa dunia tidak harus tetap seperti sekarang.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *