Pada 28 Mei 1957, dunia perjuangan Kuba diguncang oleh tragedi berdarah yang dikenal sebagai pembantaian ekspedisi yacht Corintia. Sekelompok pejuang muda revolusioner yang dipimpin oleh Calixto Sánchez White berlayar demi cita-cita besar: menggulingkan rezim diktator Fulgencio Batista dan memperjuangkan kemerdekaan sejati rakyat Kuba. Namun perjuangan mereka berakhir tragis di wilayah Cabonico, Oriente, ketika mereka disergap dan dibunuh secara kejam oleh pasukan pemerintah.
Ekspedisi Corintia berangkat dari luar Kuba dengan membawa para pejuang bersenjata yang ingin bergabung dalam perjuangan revolusi yang saat itu mulai membesar bersama gerakan 26 Juli. Mereka berharap dapat membuka front perlawanan baru di bagian timur Kuba. Namun setelah mendarat, posisi mereka diketahui oleh tentara Batista. Banyak anggota ekspedisi ditangkap, disiksa, lalu dieksekusi tanpa pengadilan.
Peristiwa ini kemudian menjadi simbol pengorbanan dan keberanian dalam sejarah Revolusi Kuba. Nama Calixto Sánchez White dan rekan-rekannya dikenang sebagai martir yang rela menyerahkan hidup demi kedaulatan, keadilan sosial, dan kemerdekaan tanah air Kuba.
“Mereka datang bukan untuk mencari kekuasaan, tetapi untuk membebaskan tanah air dari penindasan. Di bawah langit Cabonico, darah para pejuang Corintia menjadi saksi bahwa kemerdekaan selalu dibayar mahal. Calixto Sánchez White dan saudara-saudaranya gugur, namun semangat mereka tetap hidup dalam sejarah perjuangan Kuba.”
Peristiwa Corintia juga memperlihatkan kerasnya konflik politik Kuba sebelum kemenangan Revolusi tahun 1959 yang akhirnya dipimpin oleh Fidel Castro dan gerakan revolusioner lainnya. Hingga kini, tanggal 28 Mei diperingati oleh sebagian masyarakat Kuba sebagai simbol keberanian dan pengorbanan revolusioner.












