Mauthausen: Ketika Pengasingan Berubah Menjadi Kematian

MAUTHAUSEN  Pada 20 Agustus 1940, sebuah kereta barang meninggalkan Angoulême, Prancis. Di dalamnya terdapat 927 pengungsi Spanyol orang-orang yang sebelumnya telah meninggalkan tanah air mereka setelah kekalahan Republik Spanyol dalam Perang Saudara.

Mereka tidak tahu ke mana kereta itu membawa mereka.

Empat hari kemudian, pada 24 Agustus, perjalanan berhenti di sebuah stasiun bernama Mauthausen, Austria. Sebuah kereta barang. Bukan kereta penumpang dengan kursi nyaman, koper, dan jendela besar untuk melihat lanskap Eropa. Ini gerbong barang. Di dalamnya 927 pengungsi Spanyol dipadatkan bersama kecemasan mereka sendiri. Empat hari sebelumnya, mereka diberangkatkan dari Angoulême, Prancis. Mereka adalah orang-orang yang kalah dalam Perang Saudara Spanyol, meninggalkan tanah air, menjadi pengungsi, dan kini kembali dipindahkan menuju sesuatu yang belum mereka pahami.

Ketika kereta berhenti di Austria, beberapa dari mereka mengintip melalui lubang ventilasi. Di sana mereka melihat sebuah nama: Mauthausen. Tidak ada musik horor. Tidak ada narator yang memberi tahu bahwa mereka sedang memasuki salah satu kamp konsentrasi Nazi. Sejarah tidak bekerja seperti film. Kadang-kadang manusia baru memahami arti sebuah tempat setelah semuanya terlambat.

Kereta itu berhenti di jalur mati selama hampir lima jam. Lima jam yang cukup untuk bertanya-tanya, berbicara, menangis, atau sekadar menunggu pintu dibuka. Tetapi di Mauthausen, lima jam itu juga menjadi waktu ketika nasib hampir seribu manusia dipilah. Perempuan dan anak-anak tidak diperbolehkan tinggal di kamp. Keluarga dipisahkan. Dan ketika pintu gerbong akhirnya terbuka, mereka tidak turun sebagai keluarga. Mereka turun sebagai tahanan.

Dari 490 laki-laki dan anak laki-laki yang diturunkan, puluhan penyandang disabilitas akibat Perang Saudara Spanyol dibunuh pada hari itu. Bayangkan sebuah sistem politik yang begitu kejam sehingga bahkan manusia yang telah terluka oleh perang masih dianggap sebagai sesuatu yang harus disingkirkan. Di sana, birokrasi dan kekerasan bertemu. Ada daftar, pemeriksaan, klasifikasi, seragam, nomor, dan kemudian kematian. Semuanya dapat dibuat tampak seperti pekerjaan administrasi.

READ  Perjalanan Hidup Ulrike Meinhof, Jurnalis yang Menjadi Simbol Kontroversi

Di dalam kamp, para tahanan Spanyol yang telah tiba lebih dahulu menunggu mereka. Mereka mengetahui aturan yang tidak pernah tertulis dalam buku sekolah. Mereka tahu bahwa pagar bukan sekadar pagar. Mereka tahu bahwa pakaian tahanan bukan sekadar pakaian. Segitiga biru menandai klasifikasi mereka dalam sistem kamp, sementara huruf S menunjukkan asal Spanyol. Satu simbol. Satu huruf. Satu identitas yang berusaha dipersempit menjadi tanda pada pakaian.

Namun manusia rupanya keras kepala. Mereka masih menyimpan nama. Mereka masih mengingat teman. Mereka masih membantu orang lain.

Pada 28 Agustus 1940, José Marfil Escabona meninggal di barak karantina. Ia menjadi salah satu korban awal dari ribuan orang Spanyol yang kemudian meninggal dalam sistem Mauthausen. Julián Mur Sánchez, seorang anarkis CNT, meminta agar kematiannya dihormati dengan satu menit mengheningkan cipta. Satu menit. Hanya satu menit. Tetapi di tempat manusia bisa kehilangan nyawa setiap hari, satu menit penghormatan menjadi sesuatu yang hampir subversif.

Sebab permintaan itu pada dasarnya mengatakan: dia manusia. Jangan biarkan kematiannya berlalu begitu saja.

Mauthausen kemudian bekerja seperti mesin penghancur. Kerja paksa, kelaparan, penyakit, kekerasan, kelelahan, dan tambang batu menjadi bagian dari kehidupan para tahanan. Batu-batu itu tidak peduli siapa yang membawanya. Tetapi tubuh manusia memiliki batas. Dan sistem kamp memaksa manusia bekerja sampai batas itu runtuh.

Namun di tengah dunia yang dirancang untuk menghancurkan manusia, muncul sesuatu yang tidak mudah dihancurkan oleh rezim: solidaritas. Para tahanan Spanyol berusaha menempatkan rekan-rekan mereka pada pekerjaan yang relatif lebih aman—sebagai juru masak, tukang kayu, tukang sepatu, pekerja kantor, dan berbagai pekerjaan lainnya. Bukan berarti pekerjaan itu bebas dari bahaya. Hanya saja, di Mauthausen, sedikit lebih jauh dari kematian bisa berarti kesempatan untuk hidup satu hari lagi.

READ  Pembantaian My Lai 1968 oleh Amerika : Luka Gelap Perang Vietnam

Beberapa tahanan yang bekerja di bagian administrasi bahkan mengambil risiko untuk mempertahankan catatan identitas tahanan Spanyol. Mereka mempertaruhkan hidup demi sesuatu yang tampaknya sederhana: nama.

Tetapi nama bukan sesuatu yang sederhana. Nama adalah bukti bahwa seseorang pernah ada. Bahwa ia mempunyai keluarga, masa lalu, rumah, dan kehidupan sebelum menjadi tahanan. Nazi dapat merampas kebebasan dan mengurung tubuh manusia, tetapi mempertahankan ingatan adalah bentuk perlawanan yang berbeda.

Kemudian datang Gusen.

Jika Mauthausen sudah menjadi neraka, para penyintas menggambarkan Gusen sebagai sesuatu yang lebih buruk. Ribuan orang Spanyol dikirim ke sana. Tubuh yang sebelumnya masih berusaha bertahan semakin lemah. Tenaga menghilang. Harapan menyusut.

Di sinilah sejarah mudah berubah menjadi statistik: ribuan orang, ribuan kematian, ribuan angka dalam arsip.

Tetapi setiap angka sebenarnya adalah satu manusia.

Satu keluarga yang kehilangan seseorang. Satu ibu yang menunggu anaknya. Satu rumah yang kemudian memiliki kursi kosong di meja makan. Satu nama yang mungkin bertahun-tahun tidak pernah lagi dipanggil.

Karena itu, Mauthausen tidak boleh hanya dibaca sebagai daftar korban.

Mauthausen adalah gambaran mengerikan tentang apa yang terjadi ketika kekuasaan, ideologi, birokrasi, dan kebencian diberi kemampuan untuk menentukan siapa yang dianggap berharga dan siapa yang boleh dihancurkan.

Hari ini kita membaca sejarah itu dari jarak aman. Kita memiliki buku, arsip, foto, dokumen, tanggal, dan nama. Tetapi bagi orang-orang yang berada di dalam kereta pada 20 Agustus 1940, semua itu belum menjadi sejarah.

Itu adalah hidup mereka.

Dan pada 24 Agustus, ketika pintu gerbong terbuka di Mauthausen, mereka belum tahu bahwa tempat itu kelak akan menjadi salah satu simbol kejahatan terbesar abad ke-20.

READ  Ketika Langit Hanoi Jatuh: Seorang Pilot Amerika dan Perempuan Vietnam dalam Satu Bingkai

Mereka hanya tahu bahwa mereka telah tiba di sebuah tempat yang tidak mereka pilih.

Selebihnya menjadi urusan sejarah.

Dan sejarah, seperti biasa, datang terlambat. Ia datang setelah orang-orang mati, setelah rezim tumbang, setelah dokumen ditemukan, dan setelah para penyintas mencoba menjelaskan kepada dunia apa yang sebenarnya terjadi.

Maka pertanyaan Mauthausen bukan hanya berapa banyak manusia yang mati?

Pertanyaan yang lebih mengganggu adalah:

Bagaimana sebuah masyarakat bisa sampai pada titik ketika kematian manusia dapat dikerjakan seperti pekerjaan administrasi?

Pertanyaan itu tidak boleh ikut mati bersama mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *