Pada Mei 1998, Indonesia seperti kapal yang sudah retak di tengah badai. Krisis moneter menghancurkan ekonomi, harga-harga melonjak, rakyat marah, mahasiswa memenuhi jalanan. Tetapi di tengah bara itu, Soeharto masih berangkat ke Mesir menghadiri KTT G-15 pada 9 Mei 1998. Seolah negara masih baik-baik saja.
Padahal Jakarta sudah mendidih.
Lalu 12 Mei pecah Tragedi Trisakti. Empat mahasiswa tewas ditembak. Kematian mereka menjadi sumbu yang membakar kemarahan publik. Esoknya, 13 Mei, Jakarta berubah menjadi lautan api. Toko dijarah, gedung dibakar, manusia diburu oleh ketakutan dan amarah. Asap hitam naik dari ibu kota seperti tanda bahwa rezim yang berdiri puluhan tahun mulai runtuh dari dalam.
Di tengah kekacauan itu, dari KBRI di Kairo, Soeharto mengeluarkan kalimat yang terdengar seperti retakan pertama dari tembok kekuasaannya:
“Kalau saya tidak lagi diberi kepercayaan, silakan. Saya tidak akan mempertahankan dengan kekuatan senjata.”
Kalimat itu bukan sekadar ucapan. Itu terdengar seperti seorang penguasa yang mulai sadar bahwa singgasananya goyah. Surat kabar Kompas menangkap getaran sejarah itu dan menjadikannya headline. Saat Jakarta terbakar, rakyat membaca kemungkinan yang sebelumnya terasa mustahil: Soeharto bisa jatuh.
Namun kekuasaan sering kali sulit melepaskan dirinya sendiri.
Ketika Soeharto pulang lebih cepat pada 14 Mei dan tiba di Jakarta subuh 15 Mei, ia mendapati negeri yang nyaris lepas dari genggaman. Ia memanggil para jenderal ke Cendana, meminta penjelasan mengapa kerusuhan membesar. Tetapi mungkin yang sebenarnya ia cari adalah jawaban atas satu pertanyaan lain: mengapa ketakutan rakyat terhadap dirinya mulai hilang.
Lalu datanglah perubahan nada itu.
Pernyataan di Kairo yang terdengar seperti kesiapan mundur tiba-tiba dibantah. Muncul headline baru pada 16 Mei: “Presiden Bantah Katakan Siap Mundur.” Di saat yang sama, foto-foto korban kerusuhan terpampang—tubuh hangus, bangunan menjadi abu, rakyat menjadi arang.
Di titik itu, media seperti sedang berbicara tanpa harus berteriak: “Negeri sudah terbakar, tapi kekuasaan masih sibuk menyelamatkan dirinya sendiri.”
Itulah momen ketika jarak antara istana dan rakyat terlihat paling telanjang. Di jalanan, orang kehilangan nyawa, rumah, dan rasa aman. Di pusat kekuasaan, yang dipertahankan justru legitimasi yang sudah runtuh perlahan.
Dan sejarah sering kejam kepada penguasa yang terlambat membaca zaman. Karena ketika rakyat sudah tidak takut, kekuasaan tinggal menunggu waktu untuk jatuh.
Enam hari kemudian, 21 Mei 1998, Pengunduran Diri Soeharto benar-benar terjadi. Bukan karena pidato. Bukan karena tekanan satu kelompok. Tetapi karena seluruh fondasi yang selama puluhan tahun menopangnya sudah retak bersamaan.












