“La libertà è l’unica terapia.” kebebasan adalah satu-satunya terapi.
Kalimat ini sering dikaitkan dengan Franco Basaglia, tetapi secara historis lebih tepat jika dipahami sebagai rangkuman dari semangat pemikirannya, bukan sebagai kutipan langsung yang pasti berasal dari satu tulisan Basaglia. Namun gagasan di baliknya memang menjadi inti perjuangan seorang psikiater Italia yang mengubah cara dunia melihat kesehatan jiwa.
Basaglia lahir di Venezia pada 1924. Ia bukan sekadar seorang dokter yang berbicara tentang penyakit mental. Ia mempertanyakan sesuatu yang lebih besar: apa yang terjadi kepada manusia ketika sebuah sistem yang mengaku ingin merawat justru mengambil kebebasan, identitas, hak, dan hubungan sosialnya?
Pada 1961, Basaglia menjadi direktur rumah sakit jiwa di Gorizia. Di sana ia berhadapan langsung dengan kenyataan kehidupan para penghuni rumah sakit jiwa. Pasien tidak hanya berhadapan dengan penyakit yang mereka alami, tetapi juga dengan sebuah institusi yang mengatur hampir seluruh kehidupan mereka. Karena itu, Basaglia mulai melakukan perubahan. Ia menentang praktik yang merendahkan manusia, membuka hubungan pasien dengan dunia luar, dan berusaha mengembalikan ruang bagi mereka untuk berbicara serta menentukan kehidupan mereka sendiri.
Pengalaman Gorizia kemudian dituangkan dalam karya penting Che cos’è la psichiatria? yang terbit pada 1967. Setahun kemudian, muncul karya yang jauh lebih terkenal, L’istituzione negata atau Institusi yang Ditolak. Buku ini menjadi salah satu dokumen penting dalam kritik terhadap rumah sakit jiwa tradisional. Basaglia memperlihatkan bahwa ketika seseorang masuk ke dalam institusi tertutup, yang dipertaruhkan bukan hanya kondisi medisnya. Ia juga dapat kehilangan individualitas, kebebasan, hubungan sosial, dan kemampuan menentukan masa depannya.
Bagi Basaglia, persoalannya kemudian berubah. Ia tidak lagi hanya bertanya bagaimana penyakit jiwa harus diobati. Ia mulai bertanya bagaimana masyarakat memperlakukan orang yang dianggap sakit jiwa.
Pertanyaan itu semakin kuat dalam Morire di classe yang terbit pada 1969, karya Basaglia bersama Franca Ongaro Basaglia dengan fotografi Carla Cerati dan Gianni Berengo Gardin. Buku tersebut mendokumentasikan kehidupan di dalam rumah sakit jiwa dan memperlihatkan sisi institusi yang selama bertahun-tahun tersembunyi dari pandangan masyarakat.
Foto-foto itu bukan sekadar dokumentasi. Ia menjadi semacam cermin. Masyarakat dipaksa melihat manusia yang selama ini ditempatkan jauh dari kehidupan umum.
Basaglia kemudian semakin jauh mempertanyakan hubungan antara psikiatri dan kekuasaan. Dalam La maggioranza deviante (1971), bersama Franca Ongaro Basaglia, kritiknya bergerak kepada persoalan bagaimana masyarakat menentukan siapa yang dianggap normal dan siapa yang ditempatkan di luar batas kewajaran. Sementara dalam Crimini di pace (1975), ia bersama Franca Ongaro Basaglia dan sejumlah pemikir lain memperluas kritik terhadap berbagai institusi sosial yang dapat mempertahankan ketimpangan dan dominasi atas nama ketertiban, keahlian, atau kebaikan manusia.
Di sinilah pemikiran Basaglia menjadi sangat menarik. Ia tidak mengatakan bahwa orang sakit tidak membutuhkan dokter. Ia tidak mengatakan bahwa obat tidak berguna. Yang ia persoalkan adalah ketika pengobatan berubah menjadi alasan untuk mengambil seluruh kendali kehidupan seseorang.
Manusia tidak boleh direduksi menjadi diagnosis.
Seorang pasien tetap memiliki sejarah, nama, hubungan, keinginan, hak, dan masa depan.
Gagasan itu kemudian dipraktikkan Basaglia ketika ia memimpin pelayanan kesehatan jiwa di Trieste. Di sana ia mendorong pembukaan rumah sakit jiwa kepada masyarakat dan membangun pelayanan yang lebih berbasis komunitas. Tujuannya bukan sekadar membuat institusi menjadi lebih nyaman, tetapi mengubah cara masyarakat memahami orang dengan gangguan jiwa.
Bagi Basaglia, pintu yang dibuka bukan hanya pintu bangunan. Yang harus dibuka adalah pintu pemikiran.
Sebab seseorang mungkin sedang sakit, tetapi ia tidak berhenti menjadi manusia.
Perubahan tersebut mencapai titik penting pada 13 Mei 1978 ketika Italia mengesahkan Undang-Undang Nomor 180, yang kemudian dikenal sebagai Legge Basaglia. Undang-undang ini menjadi tonggak reformasi kesehatan jiwa Italia dan mengubah sistem dari model rumah sakit jiwa tertutup menuju pelayanan kesehatan jiwa berbasis masyarakat.
Basaglia tidak hidup cukup lama untuk melihat seluruh perjalanan reformasi itu. Ia meninggal pada 1980. Namun gagasannya terus hidup melalui tulisan dan karya-karyanya.
Tulisan-tulisannya kemudian dihimpun Franca Ongaro Basaglia dalam dua jilid Scritti, yang mencakup perjalanan pemikiran Basaglia dari 1953 hingga 1980. Ada pula Conferenze brasiliane, yang berasal dari rangkaian konferensi Basaglia di Brasil pada 1979. Karya-karya tersebut memperlihatkan bahwa pemikirannya bukan sebuah gagasan yang muncul secara tiba-tiba, melainkan perjalanan panjang dari psikiatri menuju kritik terhadap institusi, kekuasaan, dan cara masyarakat memperlakukan manusia.
itulah sebabnya Basaglia tetap penting dibicarakan.
Ia mengingatkan bahwa penyembuhan tidak boleh berarti penghilangan manusia yang sedang disembuhkan.
Kita boleh memberikan obat. Kita boleh memberikan terapi. Kita boleh memberikan perawatan. Tetapi di tengah semua itu, ada satu hal yang tidak boleh hilang: martabat manusia.
Sebab ketika seseorang kehilangan nama, hak, hubungan sosial, pilihan, dan kesempatan menentukan hidupnya sendiri, yang hilang bukan hanya kebebasan.
Yang perlahan hilang adalah dirinya.
Dan mungkin di situlah makna terbesar warisan Franco Basaglia: bukan bahwa kebebasan menggantikan pengobatan, melainkan bahwa setiap pengobatan harus tetap menghormati manusia sebagai manusia.
Karena manusia bukan penyakitnya.
Manusia bukan diagnosisnya.
Dan rumah sakit seharusnya menjadi tempat manusia mendapatkan kembali kehidupannya, bukan tempat kehidupannya berakhir di balik tembok.












