13 Mei 1998, langit Jakarta berubah menjadi asap dan bara. Jalan-jalan dipenuhi ketakutan, toko-toko dijarah, gedung-gedung dibakar, dan teriakan kepanikan terdengar di berbagai sudut kota. Krisis ekonomi yang menghantam Indonesia sejak 1997 telah melahirkan kemarahan panjang; harga melambung, rakyat kehilangan pekerjaan, sementara kepercayaan terhadap kekuasaan runtuh perlahan.
Sehari sebelumnya, darah mahasiswa tumpah dalam Tragedi Trisakti. Empat mahasiswa gugur setelah demonstrasi menuntut reformasi dibalas peluru. Kematian mereka menjadi api yang menyulut ledakan sosial yang lebih besar. Pada 13 dan 14 Mei, Jakarta tidak lagi hanya dipenuhi demonstrasi, tetapi berubah menjadi kota yang dilanda kerusuhan massal. Penjarahan, pembakaran, perusakan, hingga kekerasan terhadap warga keturunan Tionghoa terjadi di tengah lumpuhnya keamanan.
Di saat kota terbakar, Soeharto sedang berada di Mesir menghadiri kunjungan kenegaraan. Situasi yang semakin kacau memaksanya mempercepat kepulangan. Ia tiba di Jakarta pada 15 Mei dan mendapati ibu kota dalam keadaan mencekam; asap hitam masih membumbung, ekonomi runtuh, dan gelombang tuntutan reformasi semakin tak terbendung.
Hari-hari setelahnya menjadi titik balik sejarah. Mahasiswa menduduki gedung DPR/MPR, rakyat turun ke jalan, dan dukungan terhadap pemerintah mulai runtuh dari dalam. Delapan hari kemudian, pada 21 Mei 1998, Soeharto mengundurkan diri setelah 32 tahun berkuasa. Dari abu kerusuhan dan kemarahan rakyat, lahirlah era Reformasi sebuah babak baru yang mengubah arah perjalanan bangsa Indonesia.
https://x.com/i/status/2054393309939032339












