Peristiwa Mei 1968 di Prancis berawal dari keresahan mahasiswa terhadap sistem pendidikan, ketimpangan sosial, hingga pemerintahan konservatif Presiden Charles de Gaulle. Gerakan ini pertama kali muncul di kampus Universitas Nanterre, dekat Paris, ketika mahasiswa memprotes aturan kampus yang dianggap terlalu ketat dan otoriter.
Ketegangan kemudian menyebar ke pusat kota Paris, terutama kawasan Latin Quarter yang dikenal sebagai pusat kehidupan mahasiswa dan intelektual. Pada awal Mei 1968, mahasiswa mendirikan barikade di jalan-jalan dan bentrok dengan polisi. Salah satu momen paling terkenal terjadi pada malam 10 hingga 11 Mei 1968 yang dikenal sebagai “Night of the Barricades”. Polisi menyerbu kawasan tersebut untuk membubarkan demonstran. Ratusan orang terluka dan ditangkap.
Tindakan keras aparat justru memicu simpati masyarakat luas. Demonstrasi berkembang menjadi gerakan nasional. Buruh dari berbagai sektor melakukan mogok kerja besar-besaran, melibatkan jutaan pekerja di seluruh Prancis. Pabrik, transportasi, hingga layanan publik lumpuh total. Negara hampir mengalami krisis politik besar.
Gerakan Mei 1968 tidak hanya soal politik, tetapi juga perubahan budaya. Para demonstran menuntut kebebasan berekspresi, hak pekerja, reformasi pendidikan, kesetaraan sosial, dan penolakan terhadap nilai-nilai lama yang dianggap mengekang generasi muda. Poster-poster revolusioner, seni jalanan, dan slogan seperti “Sous les pavés, la plage!” (“Di bawah batu jalanan, ada pantai!”) menjadi simbol gerakan tersebut.
Walaupun akhirnya pemerintahan Charles de Gaulle tetap bertahan setelah menggelar pemilu baru, peristiwa Mei 1968 membawa dampak besar bagi masyarakat Prancis dan dunia. Gerakan ini mengubah cara pandang terhadap pendidikan, kebebasan sipil, hubungan kerja, dan budaya politik modern. Hingga kini, Mei 1968 dikenang sebagai simbol perlawanan generasi muda terhadap kekuasaan dan ketidakadilan sosial.












