Republik Elit vs Republik Miskin :Ketika Sistem Memelihara Kaya dan Membiarkan Miskin Bertahan Hidup

Tahun 2025 dan 2026 terasa seperti panggung besar yang dipenuhi angka angka dingin, sementara manusia kecil berdesakan di pinggir sistem sambil mencoba tetap hidup. Di layar pemerintahan, grafik pertumbuhan ekonomi dipoles seperti iklan parfum mahal; tetapi di jalanan, di pasar, di gang-gang sempit, orang-orang menghitung receh sebelum membeli beras. Ada sesuatu yang ganjil di negeri ini: kemiskinan dibicarakan dalam seminar hotel berbintang, sementara rakyat miskin bahkan takut membuka dompetnya sendiri.

 

Badan Pusat Statistik pada 2025 mencatat sekitar 23,85 juta orang hidup dalam kemiskinan. Angka itu bukan sekadar statistik; itu wajah buruh yang upahnya habis sebelum akhir bulan, petani yang kalah oleh harga pupuk, dan anak muda yang menggenggam ijazah tetapi tetap menganggur. Bahkan sekitar 2,38 juta orang masih masuk kategori miskin ekstrem. Pada saat yang sama, laporan LHKPN memamerkan parade kekayaan pejabat: tanah miliaran rupiah, koleksi kendaraan mewah, saham, deposito, rumah-rumah besar yang berdiri seperti benteng di tengah negeri yang katanya menjunjung keadilan sosial.

 

Lalu datang tahun 2026. Pemerintah kembali berbicara tentang pertumbuhan, investasi, hilirisasi, bonus demografi, dan masa depan emas. Tetapi di warung kopi, orang-orang tetap mengeluh tentang harga kebutuhan pokok, sulitnya pekerjaan, dan rasa lelah menjadi rakyat kecil. Ada jarak yang terlalu jauh antara pidato dan kenyataan. Negara seperti mesin besar yang bekerja sangat baik untuk mereka yang sudah duduk nyaman di dalam sistem, tetapi bergerak lambat ketika rakyat biasa meminta akses hidup yang layak.

Dan mungkin inilah kegelisahan terbesar generasi sekarang: kita tidak sedang hidup dalam perang agama atau perang ideologi ,perang dengan penjajah seperti masa lalu. Kita hidup di tengah perang ekonomi yang lebih sunyi dan lebih brutal. Yang kuat semakin aman karena punya akses, koneksi, modal, dan perlindungan sistem. Yang lemah perlahan tenggelam di luar pagar kekuasaan. Kemiskinan hari ini bukan hanya soal malas atau rajin, tetapi tentang siapa yang diizinkan masuk ke meja permainan dan siapa yang sejak awal hanya dijadikan penonton.

READ  Hari Pers 3 Mei 2026: Dunia Mencatat Rekor Kematian Jurnalis, Indonesia Dikepung Gelombang Kekerasan

Ada ironi yang mengerikan ketika negeri berbicara tentang kemajuan, sementara jutaan rakyat masih takut sakit karena biaya rumah sakit, takut kehilangan pekerjaan, bahkan takut bermimpi terlalu tinggi. Di televisi, pejabat tersenyum di depan kamera. Di media sosial, influencer ekonomi berbicara tentang investasi dan kesuksesan. Tetapi di balik semua itu, banyak orang hanya ingin hidup tanpa rasa cemas menghadapi hari esok.

Jika keadaan seperti ini terus dibiarkan, maka negara perlahan akan tumbuh menjadi mesin raksasa yang kehilangan jiwa sosialnya. Sebuah sistem yang sibuk menjaga stabilitas angka, tetapi lupa menjaga martabat manusia. Dan sejarah selalu menunjukkan: ketika kesenjangan terlalu lama dipelihara, kemarahan rakyat tidak hilang  ia hanya menunggu waktu untuk menemukan bentuknya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *