Di tengah suara perang, pengungsian, dan kehilangan tanah air, lahirlah seorang penulis Palestina bernama Ghassan Kanafani yang percaya bahwa pena dapat menjadi bagian dari revolusi. Ia bukan sekadar sastrawan, melainkan suara bagi rakyat yang tercerabut dari rumah dan sejarahnya sendiri.
Kanafani pernah berkata:
“It is not enough to hate and believe in the past to make a revolution. Hatred and belief in the past are sufficient prods for the rebellion phase. We must love and be future-oriented if we wish to carry out the revolution.”
“Tidak cukup hanya membenci dan percaya pada masa lalu untuk membuat revolusi. Kebencian dan keyakinan pada masa lalu hanya cukup untuk mendorong tahap pemberontakan.Jika kita ingin menjalankan revolusi yang sesungguhnya, kita harus memiliki cinta dan berorientasi pada masa depan.”
Kutipan itu menjadi salah satu pemikiran paling kuat tentang makna perjuangan. Menurutnya, kebencian memang mampu melahirkan pemberontakan, tetapi tidak cukup untuk membangun dunia baru. Revolusi yang hanya berdiri di atas dendam akan mudah berubah menjadi kehancuran tanpa arah. Karena itu, sebuah perjuangan harus memiliki cinta kepada manusia dan harapan terhadap masa depan.
Ghassan Kanafani lahir di Acre, Palestina, tahun 1936. Hidupnya berubah ketika tragedi Nakba 1948 memaksa keluarganya meninggalkan tanah kelahirannya. Ia tumbuh sebagai pengungsi, menyaksikan bagaimana rakyat Palestina kehilangan rumah, identitas, dan harapan. Dari pengalaman pahit itulah lahir karya-karya sastra yang penuh luka sekaligus perlawanan.
Melalui novel, artikel, dan jurnalisme, Kanafani menulis tentang manusia-manusia kecil yang terjebak dalam perang dan pengasingan. Ia tidak hanya menggambarkan penderitaan Palestina, tetapi juga mempertanyakan dunia yang diam terhadap ketidakadilan. Baginya, tulisan bukan sekadar karya seni, melainkan alat perjuangan.

Novel Men in the Sun dan Returning to Haifa menjadikannya salah satu tokoh sastra revolusioner paling berpengaruh di dunia Arab. Dalam setiap tulisannya, Kanafani selalu mengingatkan bahwa perjuangan bukan hanya tentang merebut kembali tanah, tetapi juga mempertahankan martabat manusia.
Pemikirannya tetap hidup hingga hari ini. Di berbagai belahan dunia, nama Ghassan Kanafani dikenang sebagai simbol bahwa revolusi tidak cukup dipenuhi kemarahan. Sebab kebencian hanya mampu membakar sesaat, sementara cinta terhadap keadilan dan keyakinan akan masa depanlah yang mampu menjaga perjuangan tetap hidup.












