Lukas Kustaryo merupakan salah satu pejuang gerilya Republik Indonesia yang aktif di wilayah Karawang dan Jawa Barat pada masa perang kemerdekaan 1945–1949. Ia dikenal sebagai komandan lapangan yang bergerak bersama laskar dan pejuang republik untuk melawan kembalinya kekuasaan kolonial Belanda setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan.
Sepak terjang Lukas Kustaryo banyak berkaitan dengan perang gerilya. Bersama kelompok pejuangnya, ia melakukan serangan terhadap patroli militer Belanda, mengganggu jalur logistik, serta mempertahankan daerah-daerah pedesaan agar tetap berada di bawah pengaruh Republik Indonesia.
Karena menggunakan taktik gerilya, pasukan yang dipimpinnya sering berpindah tempat dan mendapat dukungan dari rakyat desa. Hal inilah yang membuat Belanda kesulitan menangkapnya. Nama Lukas Kustaryo kemudian masuk dalam daftar buruan penting tentara kolonial Belanda di wilayah Karawang.
Pada 9 Desember 1947, Belanda melancarkan operasi besar ke Desa Rawagede karena menduga Lukas Kustaryo bersembunyi di sana. Namun warga desa menolak memberikan informasi tentang keberadaannya. Kegagalan menangkap Lukas Kustaryo berujung pada pembantaian massal terhadap ratusan warga sipil oleh tentara Belanda.
Meski tragedi Rawagede terjadi akibat operasi pencarian dirinya, Lukas Kustaryo berhasil lolos dari pengepungan dan tetap menjadi bagian dari perjuangan gerilya Republik Indonesia.
Dalam sejarah perang kemerdekaan, Lukas Kustaryo dikenang sebagai simbol perlawanan rakyat bersenjata di pedesaan Jawa Barat yang menghadapi kekuatan militer kolonial dengan strategi gerilya dan dukungan masyarakat.
Lukas Kustaryo akhirnya tetap selamat dari perburuan besar tentara Belanda setelah tragedi Rawagede Massacre. Meski menjadi target utama operasi militer Belanda di Karawang, ia tidak pernah berhasil ditangkap.
Setelah perang kemerdekaan Indonesia berakhir, Lukas melanjutkan karier militernya di lingkungan Tentara Nasional Indonesia. Ia ikut dalam operasi militer Republik Indonesia, termasuk dikirim ke Maluku untuk menghadapi gerakan RMS (Republik Maluku Selatan).
Karena keberanian dan taktik gerilyanya, Belanda menjulukinya “Begundal Karawang”. Julukan itu muncul karena ia sering menyergap pasukan Belanda secara tiba-tiba dan sulit dilacak. Bahkan ada kisah bahwa ia pernah menyamar memakai seragam Belanda untuk menyerang tentara kolonial.
Di masa Indonesia merdeka, Lukas juga sempat terjun ke dunia politik dan bergabung dengan organisasi IPKI yang didirikan oleh Abdul Haris Nasution. Pangkat terakhirnya dalam militer adalah Brigadir Jenderal.
Lukas Kustaryo wafat pada 8 Juni 1997 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cipanas, Jawa Barat. Hingga kini namanya dikenang sebagai salah satu tokoh gerilya penting dalam perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia.












