Blog, Esai  

Ketika Hidup Runtuh, Tulisan Menjadi Jalan Pulang

Namaku Jihad Abdul Mujahid. 1992 penulis khusus Media Nalar dan Pimpinan Redaksi Discoverynews.id

Hari ini aku dipercaya menjadi pimpinan redaksi dan membangun sebuah media. Tetapi media ini tidak lahir dari kehidupan yang mudah. Ia tidak tumbuh dari ruangan yang nyaman, modal besar, ataupun perjalanan yang selalu berjalan lurus.

Ia lahir dari keterpurukan.

Ada masa ketika hidupku berada pada titik yang sangat rendah. Persoalan utang-piutang membuat kehidupan semakin sempit. Beban yang menumpuk membawa banyak hal pada akhirnya harus ditinggalkan. Aku dan anakku pernah mengalami pengusiran dari keluarga mertua dan harus menghadapi kehidupan tanpa kepastian tempat tinggal.

Saat itu anakku masih kecil.

Ada masa ketika kami berada di gang-gang kota, berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Ada hari-hari ketika persoalan paling sederhana makan, tempat tidur, dan bagaimana menjalani hari berikutnya menjadi sesuatu yang harus dipikirkan dengan serius.

Sebagai seorang ayah, keadaan seperti itu tidak memberiku banyak pilihan.

Aku harus tetap berjalan.

Bukan karena aku tidak takut.

Tetapi karena ada seorang anak yang harus tetap melihat ayahnya berdiri.

Aku pernah kehilangan rumah.

Kehilangan rumah tangga. di cerai dan Teruisir ,

Kehilangan orang tua.

Terlilit utang.

Dan harus memikirkan kehidupan seorang anak yang masih kecil.

Dalam kehidupan pribadi pun aku mengalami kegagalan. Dua kali pernah mempersiapkan pernikahan. Berbagai kebutuhan sudah mulai disiapkan. Tetapi pada akhirnya rencana manusia tetap berhadapan dengan sesuatu yang tidak selalu bisa dikendalikan.

Dari sana aku belajar satu hal:

Tidak semua yang kita bangun akan menjadi milik kita selamanya. Tetapi setiap proses tetap meninggalkan sesuatu di dalam diri kita.

Aku pernah menjadi pedagang kaki lima.

READ  Karikatur Soviet 1972: Kritik Tajam terhadap NATO dan Dominasi Amerika

Pernah menjadi kuli.

Pernah menjadi tukang sofa.

Pernah mencoba membangun usaha.

Gagal.

Mencoba lagi.

Jatuh lagi.

Kemudian mencoba berdiri kembali.

Tidak ada pekerjaan yang terlalu kecil ketika seseorang sedang berusaha mempertahankan hidupnya.

Aku justru menemukan banyak pelajaran dari pekerjaan-pekerjaan itu. Aku belajar tentang manusia, tentang kebutuhan, tentang harga sebuah tenaga, tentang bagaimana seseorang mempertahankan hidupnya dari hari ke hari.

Dan di tengah semua itu, ada satu hal yang selalu kembali kepadaku:

menulis.

Aku menulis kegelisahan tentang kehidupan. Tentang manusia. Tentang pekerjaan. Tentang ketidakadilan. Tentang media. Tentang pers. Tentang bagaimana seseorang bisa tetap memiliki pikiran ketika keadaan sedang memaksanya hanya memikirkan cara bertahan hidup.

Tulisan menjadi tempatku menyusun kembali pikiran.

Dari tulisan lahir gagasan.

Dari gagasan lahir keberanian.

Dari keberanian lahir karya.

Dan dari karya, perlahan-lahan aku mulai membangun sesuatu.

Aku menulis buku.

Membuat website.

Belajar teknologi.

Membangun usaha.

Membangun media.

Melukis.

Membaca.

Mengajar.

Dan terus mencoba menciptakan sesuatu dari apa yang masih tersisa.

Ada sebuah kalimat Friedrich Nietzsche yang sering dikutip.”Apa yang tidak membunuhku, membuatku lebih kuat.”

Bagiku, kalimat itu bukan berarti bahwa penderitaan harus dicari atau diagungkan. Penderitaan tetaplah penderitaan.

Tetapi manusia dapat memilih apa yang akan dilakukan setelah melewatinya.

Ada yang berhenti.

Ada yang menyerah.

Ada pula yang menggunakan pengalaman pahit sebagai bahan untuk membangun dirinya kembali.

Aku memilih yang terakhir.

Karena itu, media ini bukan sekadar pekerjaan.

Media ini adalah bagian dari perjalanan bangkit.

Ia lahir dari seorang manusia yang pernah kehilangan tempat untuk pulang.

Dari seorang ayah yang pernah membawa anaknya melewati masa-masa sulit.

Dari seseorang yang pernah menjadi PKL, kuli, tukang sofa, mencoba usaha, terlilit utang, mengalami kegagalan, lalu kembali memulai dari bawah.

READ 

Keterpurukan melahirkan kegelisahan.

Kegelisahan melahirkan tulisan.

Tulisan melahirkan gagasan.

Gagasan melahirkan karya.

Dan karya kemudian melahirkan media.

Itulah sebabnya aku tidak melihat media hanya sebagai sebuah institusi pemberitaan.

Bagiku, media adalah ruang untuk berpikir.

Ruang untuk mempertanyakan sesuatu.

Ruang untuk menyampaikan suara.

Dan, pada tingkat tertentu, ruang untuk membuktikan bahwa seseorang yang pernah berada di bawah tetap dapat membangun sesuatu tanpa harus menyangkal masa lalunya.

Marcus Aurelius pernah menulis gagasan yang sederhana tetapi dalam:

“Hambatan bagi tindakan justru memajukan tindakan.”

Barangkali hidup memang bekerja seperti itu.

Apa yang menghalangi perjalanan kita terkadang justru menjadi bahan yang membentuk cara kita berjalan.

Gang-gang kota mengajarkanku bertahan.

Pekerjaan kasar mengajarkanku menghargai tenaga.

Kegagalan mengajarkanku menerima kenyataan.

Kehilangan mengajarkanku bahwa tidak semua hal dapat dipertahankan.

Dan menulis mengajarkanku bahwa pikiran tetap dapat bekerja bahkan ketika kehidupan sedang berantakan.

Maka ketika hari ini seseorang melihatku sebagai pimpinan redaksi, yang terlihat mungkin hanya sebuah jabatan.

Tetapi di belakang jabatan itu ada perjalanan panjang.

Ada gang kota.

Ada pekerjaan kasar.

Ada utang.

Ada kegagalan.

Ada rumah yang pernah hilang.

Ada rumah tangga yang pernah runtuh.

Ada orang tua yang telah pergi.

Ada seorang anak kecil yang pernah berjalan bersamaku ketika kehidupan sedang tidak baik-baik saja.

Dan ada tulisan yang perlahan menjadi jalan untuk bangkit.

Aku tidak membangun media ini karena hidupku sudah sempurna.

Aku membangunnya justru ketika hidupku masih dalam proses diperbaiki.

Aku tidak ingin menjadikan masa lalu sebagai alasan untuk dikasihani.

Masa lalu cukup menjadi guru.

Aku juga tidak ingin hidup hanya untuk membuktikan sesuatu kepada orang-orang yang pernah meremehkan, meninggalkan, atau tidak percaya.

READ  Hello world!

Tidak perlu.

Pada akhirnya, perjuangan terbesar bukanlah membuat orang lain menyesal.

Perjuangan terbesar adalah memastikan bahwa diri kita sendiri tidak berhenti.

Masih mampu bekerja.

Masih mampu berpikir.

Masih mampu belajar.

Masih mampu menciptakan.

Masih mampu berdiri setelah berkali-kali jatuh.

Dan mungkin, itulah arti sebenarnya dari memulai kembali.

Bukan kembali menjadi orang yang sama.

Tetapi kembali dengan pemahaman yang berbeda.

Hari ini aku berdiri sebagai Jihad Abdul Mujahid, bukan sebagai seseorang yang hidupnya tanpa luka, tetapi sebagai seseorang yang memilih untuk tidak menjadikan luka sebagai akhir perjalanan.

Media ini adalah salah satu hasil dari pilihan itu.

Ia bukan lahir dari kemewahan.

Ia lahir dari keterbatasan.

Bukan dari kehidupan yang sempurna.

Tetapi dari kehidupan yang pernah berantakan dan kemudian perlahan disusun kembali.

Karena pada akhirnya, manusia tidak selalu bisa memilih dari mana ia memulai.

Tetapi manusia masih dapat memilih ke mana ia akan berjalan setelahnya.

Kalau suatu hari kehidupan memaksamu kembali ke titik nol, jangan selalu menganggap nol sebagai akhir.

Nol adalah ruang kosong.

Dan ruang kosong dapat diisi.

Dengan keberanian.

Dengan kerja.

Dengan ilmu.

Dengan tulisan.

Dengan karya.

Dengan kesabaran.

Dengan doa.

Dan dengan langkah yang terus bergerak, meskipun perlahan.

Sebab terkadang titik terendah bukanlah tempat kehidupan berakhir.

Justru dari sanalah seseorang mulai menemukan siapa dirinya sebenarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *