Milano 1975: Darah, Ideologi, dan Anak Muda yang Dibunuh

Milano malam itu dingin seperti besi pistol yang baru keluar dari saku jaket kulit.

Lampu-lampu kota memantul di jalan basah Piazza San Babila, sementara anak-anak muda dengan rambut panjang, selebaran lusuh, dan mata penuh amarah berjalan seperti sedang membawa perang kecil di dada mereka. Italia tahun 1975 bukan negara — ia seperti bar yang terlalu penuh asap rokok, terlalu banyak ideologi, terlalu banyak dendam yang belum dikubur sejak zaman Benito Mussolini.

Dan di tengah semuanya ada Alberto Brasili.

Wajahnya tidak terlihat seperti revolusioner dalam poster propaganda. Ia tersenyum. Rambutnya berantakan. Tatapannya seperti pemuda yang masih percaya dunia bisa diperbaiki dengan kata-kata, musik jalanan, dan keberanian mabuk anak muda.

Tapi Italia saat itu tidak memberi banyak ruang bagi orang-orang seperti itu.

Di sudut-sudut Milan, neo-fasis berkeliaran seperti bayangan lama yang menolak mati. Mereka membawa kebencian generasi perang yang diwariskan diam-diam dari ayah ke anak. Sementara kaum kiri memenuhi tembok-tembok kota dengan slogan perlawanan, diskusi revolusi, dan mimpi tentang dunia tanpa tirani.

Lalu malam itu pecah.

25 Mei 1975.

San Babila berubah menjadi arena berburu.

Pisau keluar lebih cepat daripada argumen. Teriakan lebih keras daripada lagu-lagu perjuangan. Dan Alberto jatuh bukan sebagai tokoh besar negara, tapi sebagai satu lagi tubuh muda yang dikorbankan oleh zaman yang sakit.

Darah di trotoar selalu terlihat sama, entah itu darah kaum kiri, kanan, tentara, atau rakyat biasa.

Namun setelah kematiannya, namanya mulai hidup dengan cara yang aneh. Ia menjadi simbol. Poster. Nyanyian. Kemarahan yang diwariskan dari demonstrasi ke demonstrasi.

“Fascio, attento, ancora fischia il vento.”

Fasis, hati-hati, angin perlawanan masih berhembus.

READ  Rosa dan Carmelo (1936–1939): Cinta, Fasisme, dan Kesaksian dari Gran Canaria

Dan memang benar. Angin itu tidak pernah benar-benar berhenti. Ia hanya berubah bentuk: menjadi tulisan, mural, musik bawah tanah, dan ingatan kolektif orang-orang yang menolak lupa.

Karena sejarah kadang tidak bergerak lewat pidato presiden.

Kadang ia bergerak lewat seorang pemuda berambut panjang yang tersenyum di foto hitam putih, lalu mati di jalan kota yang terlalu lama dipenuhi kebencian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *