Belajar dari Colin Ward: Prinsip Tidak Boleh Tunduk pada Ketidakadilan

Di tengah dunia yang semakin penuh dengan ketimpangan dan ketidakadilan, sering kali manusia dihadapkan pada pilihan: bertahan pada prinsip atau menyerah pada keadaan.

Kutipan dari Colin Ward (1973) menjadi pengingat tajam:

Si abandonas voluntariamente tus principios ante situaciones de injusticia, para empezar no tenías principios, solo ilusiones.

“Jika kamu secara sukarela meninggalkan prinsip-prinsipmu di hadapan situasi ketidakadilan, maka sejak awal kamu tidak memiliki prinsip hanya ilusi”.

Kalimat ini bukan sekadar kritik, tetapi juga cermin. Ia menantang kita untuk bertanya: apakah selama ini kita benar-benar hidup dengan prinsip, atau hanya merasa memilikinya selama keadaan masih nyaman?

Colin Ward, seorang pemikir sosial asal Inggris, dikenal dengan gagasannya tentang kebebasan yang bertanggung jawab. Ia tidak melihat masyarakat sebagai sesuatu yang harus selalu dikendalikan dari atas, melainkan sebagai kumpulan individu yang mampu mengatur dirinya sendiri melalui kerja sama dan kesadaran kolektif. Dalam pandangannya, kekuatan sejati justru lahir dari bawah dari masyarakat itu sendiri.

Jika kita melihat Indonesia, gagasan ini sebenarnya bukan hal asing. Sejak lama, masyarakat hidup dengan nilai gotong royong. Di desa-desa, orang-orang bekerja bersama tanpa menunggu perintah negara. Mereka membangun jalan, menjaga keamanan lingkungan, dan membantu sesama dengan kesadaran, bukan paksaan. Ini adalah bukti bahwa masyarakat memiliki kapasitas untuk mandiri.

Namun, di era modern, banyak nilai itu mulai tergeser. Ketergantungan pada sistem, kekuasaan, dan modal sering kali membuat masyarakat kehilangan keberanian untuk berdiri di atas prinsip. Dalam dunia jurnalistik, misalnya, tidak sedikit media yang akhirnya tunduk pada kepentingan tertentu. Prinsip kebenaran terkadang dikalahkan oleh tekanan ekonomi dan politik.

Di sinilah pesan Colin Ward menjadi relevan. Prinsip bukan sesuatu yang diuji saat keadaan mudah, tetapi justru saat menghadapi tekanan. Ketika seorang jurnalis memilih diam di tengah ketidakadilan, atau ketika masyarakat memilih apatis terhadap penyimpangan, maka yang hilang bukan hanya suara—tetapi juga integritas.

See also  Jurnalis yang Menggugat Penjajahan di Indonesia : Kisah Ernest François Eugène Douwes Dekker

Lebih jauh lagi, gagasan ini mengajak kita untuk membangun kembali kepercayaan pada kekuatan masyarakat. Bahwa perubahan tidak selalu harus datang dari atas. Bahwa keadilan bisa dimulai dari tindakan kecil: keberanian berbicara, kejujuran dalam bekerja, dan solidaritas antar sesama.

Pada akhirnya, prinsip bukanlah slogan. Ia adalah sikap hidup. Dan seperti yang diingatkan Colin Ward, jika prinsip itu mudah dilepas ketika keadaan sulit, mungkin sejak awal ia memang tidak pernah benar-benar ada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *