S. Rukiah: Penulis Perempuan dari Revolusi yang Dihilangkan Sejarah

S. Rukiah, atau Siti Rukiah Kertapati, lahir pada 25 April 1927 di Purwakarta, Jawa Barat. Ia tumbuh dalam suasana kolonial yang sedang menuju keruntuhan. Pendidikan yang ia tempuh membawanya menjadi seorang guru, namun sejak awal, jalan hidupnya tidak berhenti di ruang kelas. Ia memilih menulis sebuah pilihan yang pada masa itu bukan sekadar profesi, melainkan sikap.

Memasuki 1940-an, Indonesia berada dalam pusaran pendudukan Jepang dan kemudian revolusi kemerdekaan. Di tengah situasi itu, Rukiah mulai menulis puisi dan cerpen. Tulisan-tulisannya tidak berbicara tentang elite atau kemenangan besar, tetapi tentang rakyat biasa tentang perempuan, penderitaan, dan harapan di tengah kekacauan. Ia menjadi bagian dari generasi penulis yang menjadikan sastra sebagai catatan hidup revolusi.

Pada awal 1950-an, setelah Indonesia merdeka, Rukiah pindah ke Jakarta dan terlibat dalam dunia sastra nasional. Ia berkontribusi dalam majalah seperti Pujangga Baru, yang saat itu menjadi ruang penting bagi perkembangan sastra Indonesia modern. Karya-karyanya mulai dikenal luas, di antaranya Kejatuhan dan Hati (1950) dan Tandus (1952). Novel Tandus bahkan memperoleh penghargaan sastra nasional, menandai pengakuan atas kualitas dan keberpihakannya pada realitas sosial.

Ciri khas tulisan Rukiah adalah realisme sosial. Ia menulis tentang kehidupan rakyat kecil, perempuan dalam situasi pasca-revolusi, serta ketimpangan yang mulai tampak setelah kemerdekaan. Dalam konteks ini, Rukiah tidak hanya menjadi penulis, tetapi juga saksi perubahan zaman.

Memasuki akhir 1950-an hingga awal 1960-an, dinamika politik Indonesia semakin tajam. Dunia kebudayaan pun terpolarisasi. Rukiah kemudian terlibat dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), sebuah organisasi kebudayaan yang menekankan peran seni sebagai alat perjuangan rakyat. Keterlibatan ini mempertegas posisi ideologisnya bahwa sastra harus berpihak.

See also  Kebenaran Tak Butuh Izin: Jurnalis Dihalangi, Negara Dipertanyakan

Namun, situasi berubah drastis setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965. Pergeseran kekuasaan yang terjadi setelahnya tidak hanya berdampak pada politik, tetapi juga kebudayaan. Para seniman dan penulis yang terafiliasi atau dianggap dekat dengan Lekra mengalami penyingkiran. Buku-buku dilarang, distribusi dihentikan, dan nama-nama mereka perlahan dihapus dari ruang publik.

Rukiah termasuk di antara mereka yang terdampak. Ia tidak lagi aktif menulis seperti sebelumnya. Karya-karyanya sulit ditemukan, dan namanya jarang disebut dalam sejarah sastra resmi pada masa itu. Ini bukan sekadar kehilangan ruang berkarya, tetapi juga bentuk penghilangan dari ingatan kolektif.

Dalam kurun 1970-an hingga 1980-an, Rukiah hidup dalam kesunyian dari dunia sastra yang dulu membesarkan namanya. Sementara itu, narasi sejarah dan kebudayaan Indonesia dibentuk ulang dengan mengesampingkan tokoh-tokoh yang dianggap tidak sejalan dengan kekuasaan saat itu.

S. Rukiah meninggal pada tahun 1996. Kepergiannya tidak banyak mendapat sorotan luas. Namun, seiring waktu, terutama memasuki era reformasi dan 2000-an, kajian terhadap sejarah sastra mulai membuka kembali nama-nama yang sempat dihapus, termasuk dirinya.

Kini, S. Rukiah dikenang sebagai salah satu penulis perempuan penting dalam sejarah sastra Indonesia. Ia adalah bagian dari generasi yang menulis di tengah revolusi, menyuarakan realitas sosial, dan kemudian mengalami pembungkaman akibat perubahan politik.

Kisahnya menunjukkan bahwa sejarah sastra tidak pernah sepenuhnya netral. Ia dipengaruhi oleh kekuasaan, ideologi, dan ingatan kolektif. Dan dalam proses itu, ada penulis yang diangkat dan ada pula yang pernah dihilangkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *