Tjokroaminoto dan Wajah Baru Penjajahan: Ketika Kapitalisme Membungkam Rakyat dalam Senyap

Di lorong-lorong sempit Hindia Belanda, ketika keringat rakyat diperas dan harga diri diinjak, satu suara muncul tidak liar, tapi tajam dan terarah. Itu suara HOS Tjokroaminoto.

Ia melihat langsung wajah sistem: pedagang kecil tersingkir, buruh diperas, dan kekayaan mengalir ke tangan segelintir orang. Kapitalisme kolonial bukan sekadar teori itu kenyataan yang menekan dari hari ke hari.

Melalui Sarekat Islam, ia tidak hanya membangun organisasi, tapi membangunkan kesadaran. Dari pasar ke pasar, dari kampung ke kampung, ia meniupkan satu gagasan: rakyat harus berdiri, bukan sekadar bertahan.

Di tengah itu, lahir satu kalimat yang seperti pisau:

“Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat.”

Bukan slogan itu strategi hidup.

Ilmu, agar rakyat tidak terus dibodohi.

Tauhid, agar manusia tidak menyembah uang dan kekuasaan.

Siasat, agar perlawanan tidak bodoh dan sia-sia.

Ia paham, musuh terbesar bukan hanya penjajah, tapi pola pikir tunduk yang diwariskan diam-diam.

Wajah Lama di Zaman Baru

Hari ini, penjajah mungkin tak lagi datang dengan seragam dan senapan. Tapi sistem yang dulu ia lawan, berubah rupa lebih rapi, lebih modern, lebih sulit dikenali.

Kapitalisme merayap ke segala sisi:

  • yang kaya semakin kaya
  • yang miskin semakin terjepit
  • yang bodoh dibiarkan tetap bodoh

yang pintar justru kadang menjadikan kecerdasannya alat untuk mengendalikan yang lemah

Bukan lagi penjajahan fisik, tapi penjajahan pikiran dan kesempatan.

Informasi berlimpah, tapi tidak semua tercerahkan.

Pendidikan terbuka, tapi tidak semua terjangkau.

Kesempatan ada, tapi tidak semua punya akses yang sama.

Dan di situ, ketimpangan tumbuh pelan, tapi pasti.

Jika Tjokroaminoto Masih Berdiri Hari Ini

Jika HOS Tjokroaminoto melihat hari ini, mungkin ia tidak akan kaget—hanya akan berkata bahwa bentuknya berubah, tapi rohnya sama.

See also  Belajar dari Colin Ward: Prinsip Tidak Boleh Tunduk pada Ketidakadilan

Bahwa penindasan tidak selalu datang dengan kekerasan,

kadang datang dengan sistem yang membuat orang merasa “normal” untuk tertindas.

Ia mungkin akan kembali mengingatkan:

ilmu harus membebaskan, bukan jadi alat manipulasi

agama harus membela yang lemah, bukan membungkus keserakahan

strategi harus cerdas, karena musuh hari ini tidak kasat mata

Perjuangan itu belum selesai.

Karena selama masih ada ketimpangan,

selama masih ada yang diuntungkan dari ketidaktahuan orang lain,

selama masih ada sistem yang membuat manusia kehilangan martabatnya

maka suara Tjokroaminoto tidak akan pernah benar-benar hilang.

Ia hanya berpindah tempat:

  • dari mimbar ke layar,
  • dari pasar ke media,
  • dari pidato ke kesadaran.

Dan pertanyaannya sekarang bukan lagi siapa penjajahnya

tapi apakah kita cukup sadar untuk mengenalinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *