Di balik gemerlap pembangunan dan janji kemajuan, ada cerita panjang tentang luka yang jarang benar-benar disembuhkan. Tanah yang dulu menjadi sumber kehidupan perlahan berubah menjadi ruang eksploitasi, meninggalkan jejak penderitaan bagi mereka yang telah lama menjaganya. Ungkapan warga Amungme yang diangkat dalam buku 32 Tahun Menjarah Alam

menggambarkan betapa dalam rasa kehilangan itu bukan sekadar sumber daya yang diambil, tetapi juga harga diri, ruang hidup, dan masa depan.
Selama puluhan tahun, alam tidak hanya dieksplorasi, tetapi juga “dikeruk” tanpa jeda. Gunung yang sakral berubah menjadi tambang, hutan menjadi angka dalam laporan ekonomi, dan manusia yang hidup di dalamnya kerap dipinggirkan dari cerita besar yang ditulis atas nama pembangunan. Kalimat metaforis “bulu-bulu dicabut hingga habis” bukan sekadar kiasan, melainkan gambaran tentang proses panjang pengurasan yang terasa menyakitkan dan tak berkesudahan.
Buku ini hadir sebagai pengingat bahwa sejarah tidak boleh dilupakan. Ia mencatat bagaimana kebijakan, kekuasaan, dan kepentingan ekonomi berkelindan, sering kali mengorbankan lingkungan dan masyarakat adat. Lebih dari itu, ia mengajak pembaca untuk melihat ulang: apakah kemajuan yang dibanggakan benar-benar sebanding dengan kerusakan yang ditinggalkan?
Di tengah arus informasi yang cepat, narasi seperti ini penting untuk menjaga kesadaran. Bahwa alam bukan sekadar objek, melainkan bagian dari kehidupan yang harus dijaga. Dan suara-suara yang selama ini terpinggirkan, justru menyimpan kebenaran yang perlu didengar.












